“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu mengubah nasib mereka sendiri”
itu terjemah yang paling sering kudengar dari QS Al Anfal 53.Sementara, ada terjemah
“Allah tidak akan mengubah apa-apa yang ada disatu kaum sampai kaum tersebut mengubah apa-apa yang ada di jiwa mereka”
atau versi Quran Digital :
…karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkanNYA kepada suatu kaum hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri,….
Beda kan ? Terjemah pertama seolah mengatakan bahwa nasib ditentukan oleh usaha manusia. Padahal, apa iya ? Kita cuma diperintah untuk berusaha. Soal hasil itu urusanNYA. Terjemah kedua lebih pas. Bila jiwa dan pola pikir kita sudah on the track untuk berbaik sangka pada NYA, usaha kita akan selaras, maka Allah akan memberikan.
Pentingnya ayat ini karena sering disitir oleh penceramah untuk menyemangati umat islam dalam berusaha. Seolah kalau mengimani bahwa hasil ditentukanNYA, khusnul khotimah tidaknya kita diakhir hidup adalah ketentuanNYA, lantas kita jadi tidak lagi berusaha, toh yang menentukan bukan kita. Padahal jelas tidak begitu,…
Eh, tapi kalau di tafsir Quran digital, tertulis Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkanNYA kepada suatu kaum selama kaum itu taat dan bersyukur pada Allah.
Lho, kok jauh ya, sama tafsir selama ini ? ada teman yang mengatakan juga bahwa ayat tsb sebetulnya lebih menegaskan bahwa ayat tsb “mengubah nasib kepada ketaatan”
Hmm,..



9 dari 10 pintu rezeki ada di perniagaan