Ibu Ainun : teladan buat para istri

Ditulis sangat detil, dari tanggal sampai jamnya, ternyata berasal dari kebiasaan mencatat bapak Habibie yang kemana-mana selalu membawa buku catatan.

Di banyak situs dan berita, disebut-sebut buku ini adalah buku cinta Bapak Habibie dan Ibu Ainun.Padahal, buku ini sebetulnya layak juga dibaca oleh yang mempelajari politik negeri ini, atau melengkapi wawasan bagaimana situasi negri ini dijaman presiden Suharto sampai ke fase perpindahan kekuasaan ke Bapak Habibie.

Diawali pertemuan kembali beliau berdua dengan kalimat “gula jawa sudah jadi gula pasir”, menikah dan lalu berangkat ke jerman untuk memulai kehidupan sederhana, terlihat bagaimana ibu Ainun yang luar biasa tegar, tabah dan sabar. Dikutip juga penilaian ibu Ainun terhadap bapak di buku lain, bahwa pak Habibie tidak segan mencuci popok ‘yang ada isinya’. Kesibukan yang makin meningkat, seiring peningkatan pengakuan perusahaan -dan kemudian dunia- meningkat juga pendapatan dan tantangan yang beliau hadapi berdua. Tapi selalu, dimana ada tantangan dan gelombang, Bapak Habibie selalu dikuatkan oleh ‘senyum dan wajah Ainun yang meneduhkan’.

Kalimat yang menggambarkan bagaimana senyum kesabaran yang meneduhkan dari bu Ainun itu berulang kali disebut. Lebih dari dua puluh kali, kalau tidak salah catat. Bersaing dengan kalimat “jiwa kami manunggal, kami menjadi satu belahan jiwa, saling memahami‘ atau “bahkan berupa tatapan, tanpa kalimat, kami sudah saling mengerti, memahami

Di bab-bab akhir, setelah lengser dari kursi presiden, detil perjalanan Bapak Habibie dan ibu Ainun diceritakan, mulai fokus pada sakit yang dialami ibu. Dengan latar belakang dokter yang dimiliki, ibu Ainun bisa diskusi dengan dokter yang merawatnya. O ya, latar belakang dokter ini juga yang membuat bu Ainun makin terlihat luar biasa. Pasti tidak banyak perempuan sekolah dokter di jaman beliau. Sempat bekerja (dan itu artinya diakui, karena persyaratan yang cukup ketat) di sebuah Rumah Sakit di Jerman, akhirnya bu Ainun memutuskan untuk fokus mengurus rumah tangga, meninggalkan pekerjaannya. Pengetahuan dokternya juga digunakan untuk mendukung suaminya, yang pekerja keras dan punya jadual super ketat.

Di bab akhir, mulailah fase mengharukan. Sakit ibu Ainun dan kesetiaan Bapak menunggu, sampai akhirnya benar-benar ditinggalkan. Keimanan Bapak Habibie lah yang membuat beliau kembali tegak, walaupun sempat limbung kehilangan belahan jiwanya.

Beliau berdua, pantas menjadi bukan hanya tokoh Indonesia, tapi tokoh dunia. Buktinya bukan hanya disaat kritis mencari tiket Lufthansa yang full book dan akhirnya 6 orang bersedia mundur karena tahu yang memerlukan mendesak adalah Bapak Habibie dan ibu (dan semua adalah warga asing), atau kalimat presiden Marcos saat itu, “Bapak adalah putra Asean”. Tapi ketokohannya, sebagai seorang teknokrat, ahli aenorotika yang diakui dunia, tapi juga sangat religius. Beliau berdua, selalu puasa senin-kamis. Ibu Ainun selalu tak pernah absen mengaji.  Benar-benar pasangan teladan yang sulit dicari tandingannya.

Buku ini, layak , patut, dan harus dibaca para perempuan,…

Ibu Ainun, senyummu yang meneduhkan, pasti dari kedalaman hatimu,…yang bersih dan tunduk padaNYA,…

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Resensi Buku

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s